
Sobat, pernahkah terpikir ke mana perginya sampah-sampah yang kita buang setiap hari? Ya, sebagian besar dari sampah tersebut berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Namun, tahukah Sobat bahwa penataan TPA yang baik sangat menentukan kualitas lingkungan hidup di perkotaan?
Di tengah meningkatnya jumlah penduduk dan volume sampah di kota-kota besar, penataan TPA menjadi tantangan serius yang tidak bisa dianggap sepele. Melansir dari https://dlhindonesia.id/, jika pengelolaannya asal-asalan, bukan tidak mungkin TPA justru menjadi sumber pencemaran udara, tanah, bahkan air tanah.
Oleh karena itu, mari kita pahami lebih dalam bagaimana seharusnya penataan TPA dilakukan agar ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Apa Itu TPA dan Mengapa Harus Dikelola dengan Baik?
TPA adalah lokasi akhir untuk menampung dan mengelola sampah rumah tangga maupun industri sebelum akhirnya diolah atau ditimbun. Dalam praktiknya, ada dua jenis TPA, yaitu TPA terbuka (open dumping) dan TPA yang sudah menerapkan sistem sanitary landfill.
Sobat, TPA yang tidak tertata dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan dan lingkungan. Bau tak sedap, penyebaran penyakit, pencemaran tanah dan air, serta kemunculan binatang liar seperti tikus atau lalat bisa menjadi dampak langsung dari pengelolaan TPA yang buruk.
Prinsip Penataan TPA yang Ideal di Kota
Supaya berfungsi optimal dan tidak merugikan lingkungan sekitar, penataan TPA di kota-kota seharusnya memperhatikan beberapa prinsip penting:
Lokasi Strategis
TPA idealnya ditempatkan di lokasi yang jauh dari permukiman warga namun tetap mudah dijangkau oleh armada pengangkut sampah. Pemilihan lokasi ini harus mempertimbangkan arah angin, kondisi tanah, dan risiko pencemaran air tanah.
Sanitary Landfill
Penataan yang ideal menggunakan sistem sanitary landfill, di mana sampah ditimbun dan dipadatkan setiap hari dengan lapisan tanah. Sistem ini mengurangi bau, mencegah lalat berkembang, dan meminimalkan kebakaran yang sering terjadi di TPA terbuka.
Zona Pemilahan dan Daur Ulang
TPA modern sebaiknya dilengkapi dengan zona pemilahan untuk memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah yang masih bisa didaur ulang seperti plastik, kertas, atau logam bisa dimanfaatkan kembali, mengurangi volume timbunan di TPA.
Pengelolaan Air Lindi (Leachate)
Air lindi yang berasal dari sampah basah harus ditampung dan diolah terlebih dahulu sebelum dibuang. Jika dibiarkan begitu saja, air ini bisa mencemari sumber air tanah di sekitar TPA.
Energi Terbarukan dari Sampah
Beberapa kota besar di dunia bahkan sudah memanfaatkan sampah menjadi sumber energi seperti biogas atau listrik. Sobat, ini adalah peluang besar bagi kota-kota di Indonesia untuk menata TPA sekaligus menghasilkan energi bersih.
Peran Pemerintah dan Masyarakat
Sobat, penataan TPA yang efektif tak lepas dari sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah daerah bertugas menyediakan lahan, infrastruktur, serta mengelola operasional TPA.
Namun, masyarakat juga harus berperan aktif melalui gerakan pemilahan sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan mendukung kebijakan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.
Salah satu contoh positif dapat kita lihat dari beberapa kota seperti Surabaya dan Bandung yang mulai mengembangkan TPA dengan pendekatan waste to energy. Ini bukti bahwa perubahan itu mungkin, asal ada kemauan bersama.
Sobat, penataan Tempat Pembuangan Akhir bukan hanya soal teknis, tapi juga bentuk kepedulian kita terhadap bumi yang kita tinggali bersama. Lingkungan yang sehat dan bersih adalah hak setiap warga kota, dan pengelolaan TPA yang bijak adalah salah satu kunci utamanya.
Untuk informasi lebih lengkap mengenai pengelolaan TPA, Sobat bisa langsung mengakses https://dlhindonesia.id/. Yuk mulai dari diri sendiri dengan bijak mengelola sampah dan mendukung kebijakan lingkungan yang berkelanjutan. Sebab, masa depan kota kita tergantung dari bagaimana kita memperlakukan sampah hari ini.
OlahFakta.com Mengulas Fakta Menarik